"Ke Singapore, Pak!"
"Ke Singapore, Pak!" . Adalah jawaban singkat, padat dan jelas yang saya ucapkan ketika diintrogasi seseorang, ada cerita dibalik kejadian itu yang ingin saya bagikan pada kesempatan kali ini.
Setiap kejadian pasti ada penyebabnya, begitu pula dengan perbuatan kita, yang suatu saat pasti mendapatkan balasannya. Mungkin atau tidak mungkin, saya baru "sadar" bahwa apa yang pernah saya ucap, bagaikan doa, yang bahkan saya tak pernah menyangka akan menjadi kenyataan di masa mendatang...
Setiap kejadian pasti ada penyebabnya, begitu pula dengan perbuatan kita, yang suatu saat pasti mendapatkan balasannya. Mungkin atau tidak mungkin, saya baru "sadar" bahwa apa yang pernah saya ucap, bagaikan doa, yang bahkan saya tak pernah menyangka akan menjadi kenyataan di masa mendatang...
-----------------------------------------------------------------------------------
27 Desember 2016, hari dimana saya memutuskan untuk membuat passport. Meskipun memiliki passport termasuk dalam whishlist, namun benar-benar kesal rasanya, terlalu lama berpikir dan banyak perhitungan, sempat merasa "ah tidak perlu, toh memangnya siapa yang akan membiayai ke luar negeri, mana mungkin bisa ke luar negeri, gak mungkin banget deh, bla bla bla....."
Padahal semua hal tersebut justru hanya membuang waktu saja. Akhirnya dengan menata niat kembali, saya memutuskan untuk registrasi online, karena saya rasa lebih efektif dan tak perlu lama mengantri ketika hendak proses wawancara. Enaknya mendaftar online kita juga dapat menentukan tanggal dan di mana kita akan mengurus passport. Setelah semua proses selesai, saya mendapat undangan dari kantor imigrasi :D
Setelah mendapat undangan diatas, jangan dicuekin ya teman-teman, tidak akan di PHP kok. Itu beneran disuruh datang, segera secepat mungkin untuk mendatangi kantor imigrasi dengan berkas-berkas yang dibutuhkan, namun karena saya baru membuka email tersebut di malam hari, jadi yaa saya tidur dulu dong hehehe...
Keesokan paginya, menunjukkan pukul 05.45, saya berangkat dengan santai, ternyata antrian sudah mencapai luar pintu, kemudian saya bertanya kepada security, bahwa ternyata antrian panjang tersebut ialah pemohon passport secara manual, fiuuhh...
Saya bersyukur tidak harus menunggu lama, antrian pemohon online pada saat itu masih 5 orang, dan saya mendapat nomer antrian ke 3. Sempat terlihat ada orang yang ditolak permohonnanya karena beliau hanya membawa ijazah sarjana. FYI, ternyata berkas yang dibutuhkan adalah yang mencantumkan nama orang tua. Karena saya telah membawa semua berkas (TK hingga SMK) dan ada nama orang tua, sehingga saya diperbolehkan masuk, disitu semua berkas yang asli akan dicocokan dengan berkas yang diupload di website pada saat registrasi. Setelah selesai, saya diberi nomer antrian untuk proses wawancara, betapa kagetnya, saya mendapat nomer 87. Karena hari jumat, saya memutuskan untuk pergi ke rumah teman yang dekat dengan masjid di sekitar kantor imigrasi. Pihak imigrasi menyediakan website yang bisa diakses agar pemohon passport dapat mengetahui nomor antrian secara real-time.
Cuaca sudah mulai gelap hingga turun hujan yang cukup deras, tiba-tiba nomer antrian berjalan sangat cepat, hingga tiba di nomer 70, saya segera bergegas menuju kantor imigrasi, sialnya motor saya mogok tanpa sebab, teman saya yang mengetahui hal tersebut, tanpa pikir panjang langsung meminjamkan motornya, saya kembali bersyukur...
Namun sepertinya "ujian" saya tidak sampai disitu, dengan hujan yang sangat deras disertai angin, mantel yang saya gunakan tak mampu menahan air, hingga pakaian saya basah dibuatnya. Dan juga saya harus memutar cukup jauh, karena jalur putar balik di dekat kantor imigrasi di blokir pak polisi, sempat khawatir bilamana bensin habis di tengah jalan karena belum sempat mengisinya sebelum berangkat, namun semua baik-baik saja hingga tiba di parkiran, saya segera berlari masuk ke dalam ruangan.
Ketika melihat nomer antrian yang menunjukkan angka 90, betapa kecewanya saya, tertunduk lesu tanpa kata, sangat kesal dengan diri sendiri, mengapa selalu melewatkan kesempatan. Namun ada satu petugas yang memanggil, kemudian saya duduk dan ditanya mengapa telat, bla..bla..bla. Dengan pakaian yang masih basah saya menjelaskan apa adanya, kemudian menanyakan pertanyaan terakhir "kamu mau kemana, kok buat passport?", langsung saja saya jawab "Ke Singapore, Pak!".
Lantas beliau mengarahkan kamera ke wajah saya, wow.. sudah di wawancara? tanya saya dalam hati, tanpa pikir panjang saya langsung tersenyum dan jepret..
Sebenarnya saya mengabadikan setiap momen tersebut, step by step ketika membuat passport, namun entah file foto tersebut hilang kemana :( sama seperti dia yang telah hilang dan tak akan kembali :'D ................................................
So, saya sangat menyarankan agar teman-teman tidak melewatkan setiap momen baru dalam hidup, mencatat semua mimpi yang ingin dicapai, agar banyak cerita hebat yang dibagikan, dapat menginspirasi banyak orang, dengan foto yang memiliki makna, dimana setiap cerita tersimpan rapi di dalamnya :)
in frame : OTW SINGAPORE :D


Komentar
Posting Komentar